Jatah Bibit Dikurangi, Petani Jagung Siap Menjerit

By admin 8-November-2017 | 12:43 Custom

Petani jagung Kegiatan menanam jagung yang dilakukan oleh masyarakat di sejumlah wilayah di Kabupaten Bima, marak terjadi pada beberapa tahun terakhir ini. hasilnya pun cukup menggiurkan. Per kwintal di hargai rata Rp300 ribu. Per satu musimnya, para petani bisa mendapatkan uang yang lumayan besar dari hasil pemanenan jagung. Dan kini, tak heran kalau jagung menjadi incaran para pengusaha. Ditengah kegembiraan para petani jagung atas hasil yang diperolehnya tersebut, kini justeru dihadapkan persoalan yang sangat serius, bahkan mengancam akan melahirkan resistensi besar. 

Maksudnya, kalau tahun sebelumnya para petani memperoleh bibit jagung 15 Kg per anggota keluarga, tahun ini jatahnya justeru sangat menurun. Yakni, 5 Kg per anggota keluarga. Kebijakan pemerintah tersebut, kini mulai marak dikeluhkan oleh para petani jagung khususnya di Kabupaten Bima. Sementara luas lahan yang dimiliki oleh para petani jagung tersebut, masing-masing minimal 1 hektar. Dan, jumlah petani jagung di sejumlah Desa di Kabupaten Bimamencapai hampir puluhan ribu orang. Puluhan orang tersebut, dibagi menjadi beberapa kelompok per Desa. Kades Kala, Kecamatan Donggo-Kabupaten Bima Hazairin H. Ibrahim S.Sos-mengungkap keluhannya terkait pengurangan jatah bibit jagung oleh pemerintah tersebut. menurutnya, berdampak kepada kian tajamnya keluhan para petani. “Musim sebelumnya, kami mendapat bibit dari pemerintah sebanyak 6 ton untuk Desa Kala. 

Tetapi, kini justeru turun menjadi 2,5 ton,” jelasnya. Dari jumlah itu ujarnya, dibagi secara merata kepada masing-masing anggota keluarga (petani jagung). “Per anggota anggota keluarga, hanya menerima 5 Kg. Dan, bibit tersebut sudah dibagikan semua kepada para petani jagung yang ada di Desa Kala. Pembagiannya dilakukan kemarin,” terangnya. Sedangkan luas lahan di Desa Kala yang dipergunakan untuk penanaman jagung adalah 500 hektar. Sementara bibit yang telah dibagikan itu, hanya cukup ditanam diatas lahan yang luasnya tidak sampai 0,5 hektar. “Oleh karenanya, kami mendesak pemerintah untuk menambah bibit jagu, mengingat lahan yang masih tersisa itu sangat luas. Sebaliknya, maka lahan yang biasa ditanami jagung tersebut akan nganggur,” imbuhnya. Keluhan yang sama ungkapnya, bukan saja terjadi di Desa Kala. 

Tetapi, juga menimpa Desa-Desa lain, khususnya di Kecamatan Donggo dan Sorimandi. Jagung diakuinya sebagai sumber mata pencaharian utama bagi warga di Donggo maupun di Sortomandi, pada beberapa tahun terakhir ini. Pasalnya, dalam beberapa tahun terakhir, di dua Kecamatan itu kerap ditimpa oleh gagal panen lantaran curah hujan yang tidak menentu. “Sekali lagi, kalau tidak ada penambahan bibit jagung sesuai harapan tersebut, maka akan menjamin semakin banyaknya anak-anak yang putus sekolah, mulai dari SMP hingga perguruan tinggi. Karena, jagung merupakan satu-satunya tumpuan harapan di dua Kecamatan ini,” pintanya. “Semoga nurani pemerintah terketuk,” pungkasnya.


By admin 8-November-2017 | 12:43 Read 1