Rupiah Melemah, HMI Cabang Serang Tagih Janji Kampanye Jokowi-JK

By EK-1 10-September-2018 | 02:08 Custom Aksi Demontrasi HMI Serang, Banten

SERANG - Nilai tukar rupiah mengalami guncangan yang signifikan pada tahun 2018. Rupiah terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat. Pada Mei lalu, rupiah menembus level psikologis Rp14.000 per dolar, dan tercatat sebagai mata uang dengan kinerja terjelek kedua di Asia pada Februari sampai April 2018.

Bank Indonesia sebagai bank sentral telah mengintervensi dalam beberapa kesempatan melalui pembelian surat utang dan penjualan valuta asing untuk menjaga rupiah di level aman. Namun tren rupiah tetap saja menurun. Pada 13 Juli 2018, rupiah berada pada kisaran Rp14.400 per dolar.

Menyoroti hal tersebut, sejumlah Mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Serang, Banten menggelar aksi Demontrasi terkait kekecewaanya terhadap pemerintah yang tidak bisa mengendalikan rupiah.

Dalam aksi tersebut sejumlah mahasiswa melakukan teatrikal yang menggambarkan kesusahan masyarakat Indonesia di tengah terpuruknya perekonomian di bawah pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kala.

"Kami tegas menagih janji kampanye Jokowi-JK dulu sebelum menjadi presiden yang akan menguatkan rupiah," kata Ketua Bidang Perguruan Tinggi Kemahasiswaan dan Pemuda (PTKP) HMI Cabang Serang Subhan Fauzi. Senin (10/9/2018)

Menurut Fauzi, persoalan saat ini muncul karena kebijakan yang dikeluarkan akan mengakibatkan rakyat semakin tergeletak di dalam kemiskinan dan ancaman perpecahan. Mirisnya, dalam mengeluarkan kebijakan pemerintah terkesan selalu mempertimbangkan aspek menjaga elektabilitas atau mempertahankan keterpilihan partai politik.

“Sepekan terakhir kondisi rupiah terus mengalami kenaikan. Kondisi ini menunjukkan lemahnya tim ekonomi pemerintah dalam mengantisipasi menguatnya nilai Dollar yang merupakan dampak dari kondisi global perekonomian,” terangnya.

Kemudian, kata dia, lesunya pertumbuhan perekonomian rakyat tidak ditopang oleh dipermudahnya akses ekspor hasil perekonomian.

"Yang terjadi, kebijakan impor terus dipermudah dan ekspor dipersulit. Lantas, siapa yang diuntungkan?,” katanya.

Sementara itu, Sekretaris HMI Cabang Saefudin mengatakan, selain kondisi ekonomi mengalami kemandegan. Persoalan lainnya muncul misalnya kebebasan berekspresi dalam berdemokrasi terancam.

“Rakyat seperti dibungkam tidak boleh kritis terhadap pemerintah. Fakta ini dapat dilihat dibiarkannya kelompok rakyat untuk menolak gerakan-gerakan yang sebenarnya kritik atau obat bagi jalannya pemerintahan. Kami menuntut agar pemerintah Jokowi-JK menjamin dan melindungi hak berpendapat warga negara untuk berdemokrasi,” tandasnya. (EK-1)



By EK-1 10-September-2018 | 02:08 Read 1