Di Banten, Film G30SPKI di Putar, Ketua Panitia Sebut Masih Ada Paham Komunis di Indonesia

By DV-1 30-September-2018 | 01:38 Custom Film G30SPKI

SERANG - Pemutaran film G30SPKI di Serang, Banten cukup dimintai oleh para pemonton yang di dominasi dari kalangan pelajar dan Santri. Hal itu, terlihat dari anstusiasnya para penonton menyaksikan film yang menunjukan kekejama  Partai Komunis Indonsia atau PKI.

Film berdurasi 3 Jam lebih itu, disutradari Arifin Noer posternya diambil dari catatan sejarah dalam buku "Percobaan Kudeta Gerakan 30 September di Indonesia" yang ditulis oleh sejarawan militer Nugroho Notosutanto dan investigator Ismail Saleh dan tayang perdana pada tahun 1984. 

Enjat Sudrajat ketua panitia, mengatakan Pemerintah hari ini tidak seperti pemerintah yang lalu menginstruksikan untuk nonton Film G30SPKI ini di wajibkan. Padahal, film tersbeut sempat menjadi tontonan wajib para pelajar, ASN dan perusahaan daerah.

"Kalau pemerintah tidak melakukan itu makanya kita lakukan pemutaran nobar ini. Pemutaran film ini salah satu agenda rutinitas Forum Umat Islam Banten yang bertujuan untuk meningatkan pengetahuan generasi bangsa terutama kepada generasi milenial," kata Enjat, Minggu (30/9/2018).

Ia menegaskan tidak memiliki motif apapun untuk pemuataran film tersbut, ia hanya ingin mengingatkan tentang pengalaman kelam Indonesia waktu itu. Sebab ia menilai pihak PKI masih terus bergerak dan berusaha membalikan fakta agar pemerintah Indonesia mau meminta maaf padanya. 

"Melalui media onlin cetak dan buku-buku juga dari diskusi-diskusi upaya membalikan fakta bahwa selama ini PKI menjadi korban, ini tanda bahwa masih ada paham komunis," jelasnya.

"Artinya ada upaya agar pemerintah meminta maaf kepada PKI bahwa PKI itu jadi korban," terangnya.

Berbicara komunis berbicara ideologi mereka tidak berani menampakan dirinya secara nyata sebab ada peraturan pemerintah bahwa PKI ini adalah organisasi yang terlarang.

"Dari grakanya kita taulah mereka paham komunis. Semoga pelajaran sejarah di perkuat ditinggat sekolah dan pesantren dan membahas soal ini, dan tidak menganggap bahwa kesanya isu ini basi tidak perlu dibahas di sekolah," ujarnya (DV-1)


By DV-1 30-September-2018 | 01:38 Read 1