oleh

REPDEM Geram dengan Pernyataan Saudara Haikal Hasan di Sosial Media yang Menuduh Bung Karno Tukang Penjarakan Ulama

Jakarta – RNC: Organisasi sayap PDI Perjuangan, Relawan Perjuangan Demokrali (REPDEM) geram dengan pernyataan saudara Haikal Hasan dalam video lawan yang beredar di sosial media menuduh bung Karno tukang penjarakan Ulama. Lantaran hal tersebut, REPDEM berencana melaporkan saudara Haikal Hasan ke Bareskrim Polri pada Jumat (11/2) di Jakarta. 

“Iya benar, hari ini kami laporkan saudara Haikal Hasan atas tuduhan keji dan fitnah yang menyudutkan Bung Kamo aebagai tukang penjarain para ulama. Ucapannya harus diberi pelajaran agar tidak hobi menyesatkan sejarah yang berpotensi mengadu domba anak bangsa.” ujar Ketua Umum REPDEM, Wanto Sugito saat di lokasi. 

Aktivis 98 tulusan UIN Syarif Hidayatuliah Jakarta ini mengingatkan Haikal Hasan. sebagai seorang yang katanya ustadz dan publik figur harusnya tidak hobi menyebar fitnah dan tidak mengarang cerita bebas yang berpotensi membangun kontiik dan menciptakan permusuhan sesama anak bangsa. Sebelumnya, video lawas Haikal Hasan kembali viral beredar menuding Bung Karno tukang penjarain ulama dan menyinggung soal ijtima Ulama tahun 1957 di Palembang. Haikal dalam video tersebut juga menuding Bung Kamo bersama PNl. PKI dan para Nasakomnya ngata-ngatai para ulama yang sedang melakukan muktamar pada tahun 1957 tersebut. Kata Haikal. bung Kamo menuduh pertemuan rapat muktamar itu amoral. Sebagaimana kutipan berikut: 

“Saya cerita ye, tanggal 11 bulan September tahun 1957, ada ijtimak ulama. Tahun 57 ada ijtimak ulama, Dimana diadainye? Di palembang, itu muktamar ulama yang pertama kali, Siapa yang pimpin? KH Isa Anson, Siapa sekjennya? KH Ghozali Hasan, Siapa pesertanye? Buya Hamka, Mohammad Natsir, Syafrudin Prawira Negara, Itu masyaallah. Syahrir, Kahar Muzakkar, itu masyaallah top top semua. Tahu apa yang terjadi di Jakarta? Tahu? Bung Kamo bersama PNI-nya, PKI-nya, dan Nasakom-nya ngata-gatain ulama yang sedang rapat dan muktamar. Mereka menuduh ulama yang sedang rapat itu, yang sedang muktamar itu AMORAL. kata Bung Kamo.” 

“Jangan ditutup-tutupi ini, sejarah ini, sejarah. Bung Karno kan proklamator, iye bung Karno berjasa gue tahu. Bung Karno hebat, setuju. Tapi jangan lupa. Bung Karno TUKANG PENJARAIN para ulama bersama nasakomnya. Silakan bantah kalau bisa, silakan bantah kalau bisa.“ kata Haikal dalam video yang beredar tersebut. 

Dilanjutkan Wanto, ujaran kebencian yang dilakukan oleh Haikal Hasan merupakan kaset kusut yang selalu diputar ulang. 

“Diputar lagi sama oknum dari garis yang sama. Ini tidak bisa dibiarkan. Kalau sejarah dikarang-karang sendiri seperti ini, kasian generasi berikutnya, jadi generasi pendengki semua. Repot ini, bagaimana mau bangun bangsa, kalau sejarah yang ada saja diotak atik. Yang seperti ini nih yang buat negara tidak maju-maju.” ujar Wanto. 

Kata Wanto, bagaimana Bung Kamo mau benci para Ulama, gurunya saja H.O.S Tjokroaminoto. “Nasionalisme dan Islam, sudah jelas terpatri di dalam jiwa dan raga Bung Karno” paparnya. 

“Ucapan saudara Haikal, secara tegas menuduh Bung Karno anti ulama dan anti islam. Padahal tidak demikian. Sejarah membuktikan, bahwa Bung Kamo merupakan tokoh terdepan yang mendukung kemerdekaan Palestina. Dukungannya dapat dilihat bagaimana Bung Kamo menolak RI menjalin hubungan diplomatik dengan Israel. Tak hanya itu, Bung Kamo juga memboikot lmenolak Israel dari kegiatan Asian Games dan peserta Konferensi Asia Afrika. Dan demi mendukung Palestina, Bung Kamo perintahkan kepada tim nasional PSSI untuk tidak bertanding dengan Israel saat gelaran kualifikasi piala dunia tahun 1958,” kata Wanto menegaskan. 

Atas kiprah dan komitmen Bung Karno mendukung kemerdekaan bangsa-bangsa yang mayoritas penduduknya beragama Islam, maka dalam Konferensi Islam Asia Afrika tahun 1965. Bung Karno mendapat gelar sebagai Pahlawan Pembebas dan kemerdekaan bangsa-bangsa Islam. Meskipun demikian Sukarno berjuang sebagai seorang nasionalis sejati yang tidak pernah menjual kekayaan negara bagi asing. Dalam kesempatan yang sama, Ketua DPN Repdem bidang Keagamaan dan Kepercayaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa, Irfan Fahmi mengatakan seharusnya Haikal Hasan menceritakan sejarah mengapa Muktamar Alim Ulama yang diadakan pada 8 September 1957 di Palembang itu digelar. 

“Lagipula, Muktamar itu tidak mempresentasikan keseluruhan ulama dan urnat Islam di Indonesia. Buktinya NU tidak menghadiri muktamar itu,” kata Irfan yang ditunjuk sebagai tim Advokasi DPN REPDEM ini. 

Bahkan menurutnya. ulama Betawi yang dipimpin Habib Salim bin Djindan al-Alawi al lndonesi. Bahkan menggelar muktamar yang menolak hasil muktamar di Palembang tersebut,” kata Irfan seraya mengatakan bahwa laporan pihaknya ke Kepolisian merupakan langkah tepat sebagai warga negara yang taat hukum harus menggunakan sarana hukum dalam mencari keadilan. 

Perbuatan Haikal Hasan dalam tayangan video yang viral tersebut, menurut Irfan telah memenuhi unsur pasal 45A ayat 2 juncto pasal 28 ayat 2 Undang-Undang ITE dan Pasal 14 ayat 1 dan ayat 2 juncto Pasal 15 UU Nomor 1 Tahun 1946 juncto Pasal 156 KUHP. Hal senada diutarakan Ketua DPN Repdem Bidang Politik dan Ideologi Simson Simanjutak. Menurutnya, situasi politik setelah proklamasi kemerdekaan dan pada tahun 50 an itu adalah tahun penuh dengan tekanan situasi yang sangat tidak stabil. 

“Indonesia sebagai negara yang baru saja memproklamirkan kemerdekannya diterpa dengan berbagai macam pemberontakan dan konflik politik lainnya. Sehingga pada masa itu dibutuhkan ketegasan sikap bagi siapapun yang mengancam NKRI dan kestabilan negara,” kata Simson. 

Dikatakannya, bila ada perbedaan pendapat dan idelogi dengan beberapa tokoh Islam yang kebetulan juga menjadi ulama. itu memang benar dan hal itu sangat wajar dalam negara yang sedang belajar menjalankan demokrasi. Namun tidak lantas menuding bahwa Soekarno benci para ulama.  Agar tidak menjadi sejarah yang salah. maka kata Simson, Repdem akan menindak oknum-oknum seperti ini. 

“Agar ke depannya tidak ada lagi agama terus-terusan dijadikan bahan untuk mengadu domba rakyat, apalagi memfitnah sejarah,” tutupnya. (RNC/Yus)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.