oleh

Kongres Teater Jakarta 2022 Dibuka oleh Mujiono dengan Pemukulan Gong di Jakarta

Jakarta – RNC: Gedung Joang 45 menjadi saksi dibukanya Kongres Jakarta Theatre 2022 dan telah diselenggarakan pembukaan Kongres tersebut dengan pemukulan gong oleh Mujiono selaku Anggota DPR RI. Acara ini berlangsung dengan tema Kebudayaan yang mensejahterakan (12/07). Kalimat pujian atau sebaliknya sering kita dengar kala membicarakan sebuah kota sebagai pusat dari semua aktivitas dalam ragam peristiwa. Kadang sebutan kota yang tak pernah tidur dan terus berdenyut menjadikan perumpamaan akan berlangsungnya peristiwa tanpa henti. Hal ini menjadikan ritme yang membentuk wajah serta perilaku akan sebuah perkembangan.

Semua harus serba cepat, serba taktis, dan mesti cepat untuk mengambil keputusan seolah sebuah keharusan apalagi di kota yang menjadi jantung ibu kota sebuah negara. Apakah ketergesaan ini menjadikan bentuk baru sebuah peradaban kota? Ini bukan sesuatu yang terjadi begitu saja, namun ini adalah peristiwa panjang adaptasi kultur kebudayaan. Inilah inti kebudayaan sebagai ruang pembentukan mental yang menjadikan manusia atau masyarakat mudah beradaptasi tapi tidak hilang karakter kulturalnya. Jika itu bisa di cerna dengan baik, maka tak ayal sebutan kota berbudaya akan melekat dengan sendirinya. Pemaknaan tersebut celakanya kadang hanya di simbolkan dengan bentuk-bentuk pajangan produk kebudayaan. Peristiwa kebudayaan hanya menjadi gincu pemanis untuk polesan wajah dari sebuah kota.


Pusat-pusat kebudayaan hanya menjadi ruang kaca etalase pamer budaya. Yang pada akhirnya membuat kebudayaan menjadi tersentral pada satu titik, bukan menyebar untuk menjadi akar dan fondasi yang kuat. Inilah kenapa kebudayaan itu di sebut sebagai sebuah investasi, karena sifat kebudayaan adalah menjadi benteng penguat. Akan hancur sebuah peradaban jika mereka lalai memberi ruang kebudayaan di dalamnya. Kebudayaan tidak akan bisa terawat jika hanya di berikan perhatian dan sumbangan yang sifatnya sesaat. Itu bukan sebuah jalan keluar yang baik apalagi dengan kata-kata yang naif: pelestarian.

Ini hanyalah bom waktu untuk membunuh kebudayaan atas dalih perhatian tanpa mengerti maknanya. Kebudayaan itu menjaga kita agar kita tetap terjaga dan tetap sadar untuk terus merawatnya. Ini kenapa kebudayaan di sebut tak ternilai harganya karena dia harus terus di rawat dalam ruang pemikiran kita. Kebudayaan bukanlah deretan nilai angka-angka dalam anggaran biaya fantastis yang justru bisa menghilangkan nilainya. Tidak cukup biaya sesaat, karena kebudayaan adalah jalan panjang untuk sebuah generasi jadi memerlukan biaya yang abadi. Kita adalah kota dalam balutan akar budaya yang menjadi sebuah dasar agar selalu menjaga denyut nadi dalam kultur dan tradisi untuk bergerak menuju kota kebudayaan. (RNC/Rudi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.