oleh

Imam Ratrioso Ajak Anak Milenial Berpikir Inovasi dan Kreatif dalam Menjaga Budaya

Jakarta- RNC: Imam Ratrioso adalah seorang Psikolog, yang selama dua puluh tahun ini, sejak menamatkan pendidikan profesi psikolog formalnya di Universitas Persada Indonesia (UPI) YAI tahun 2002, terus menekuni dan mempraktikkan ilmu psikologi dalam berbagai ranah kehidupan. Karirnya dimulai tahun 2002 sebagai Psikolog Pendidikan di SDIT Al Marjan Bekasi dan Dosen Psikologi di Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Profesi (LP3I) dan Sekolah Tinggi Darul Qolam. Di tahun yang sama, ia mulai merintis Biro Psikologi Safaro yang hingga kini terus bertahan dengan brand Safaro World yang berkonsetrasi pada usaha konsultansi, pengembangan SDM, training dan konseling.

Selama dua puluh tahun ini, selain menekuni profesi seorang Psikolog dan dosen, ia juga aktif dalam berbagai macam organisasi seperti Asosiasi Motivator Seluruh Indonesia (AMSI), Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Gontor wilayah Jakarta dan Bidang Dakwah Yayasan Wakaf Baitussalam Billy Moon.Sebelum menjadi Psikolog, Imam Ratrioso mengenyam pendidikan pesantren cukup lama di Pondok Modern Gontor hingga tamat di tahun 1995. Karenanya, ia pun tak dapat memisahkan diri dari dunia pesantren yang telah membesarkan dan banyak memberikan dasar-dasar ilmu dan sikap hidup pada dirinya. Sampai saat ini, ia juga aktif berdakwah menjadi da’i menyampaikan khutbah jumat, kultum di beberapa masjid dan majlis ta’lim.

Kembali ke profesinya sebagai Psikolog. Dalam sepuluh tahun terakhir ini, Imam Ratrioso menekuni Psikologi Kebangsaan, sebuah ranah baru dalam pembelajaran ilmu psikologi yang diharapkan dapat memperkaya narasi dan wacana kebangsaan di tanah air. Upaya ini semoga menjadi niat dan kontribusi terbaik yang bisa diberikan kepada bangsa, negara dan tanah air demi kemaslahatan semua anak-anak bangsa.

Hampir di semua adat suku kita bisa mendidik dan mengajarkan nilai-nilai budaya masing-masing daerah kepada adik-adik kita. Anak-anak milenial kita ini tentu perlu cara inovasi kreativitas seperti yang dilestarikan tetapi tentu harus tetap menjaga infrastruktur yang lebih terkini seperti digitalisasi. Kemudian animasi sosialisasi yang lebih kreatif tentu harus dilakukan karena kita tidak bisa memungkiri kebutuhan zaman saat ini. Kebetulan ini memang milenialis sangat mengedepankan visual dan itu menjadi daya tarik utama kepada adik-adik milenial kita ini tantangan buat teman-teman yang menjadi garda setia dalam menjaga budaya termasuk budaya Tionghoa Jakarta Imam Ratrioso Ketua Garda Pemuda Nasdem Jaktim. (RNC/Christin)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.