oleh

Kongres Masyarakat Adat Nusantara (KMAN) Forum Pengambilan Keputusan Tertinggi Organisasi

Jakarta – RNC: 14 Juli 2022, KMAN diselenggarakan setiap lima tahun sekali dan berfungsi sebagai forum pengambilan keputusan tertinggi organisasi, di mana utusan-utusan Masyarakat Adat akan melakukan musyawarah mufakat dalam merumuskan sikap dan pandangan; mengonsolidasikan gerakan Masyarakat Adat; melakukan dialog secara konstruktif dengan pemerintah dan berbagai pihak; membahas, merumuskan, dan menetapkan mekanisme penyusunan rencana strategis organisasi; serta memilih Sekretaris Jenderal (Sekjen) AMAN dan Dewan AMAN Nasional (DAMANNAS) yang baru.

Sejarah KMAN dimulai pada 1993 ketika sejumlah pemimpin Masyarakat Adat melakukan konsolidasi di Tana Toraja, Sulawesi Selatan  bersama berbagai organisasi masyarakat sipil, termasuk Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) dan Wahana Lestari Persada (WALDA). Dari sana, lahir organisasi pendukung hak Masyarakat Adat bernama Jaringan Pembelaan Hak-hak Masyarakat Adat (JAPHAMA) yang terdiri dari para aktivis lingkungan dan Masyarakat Adat. Dalam pertemuan JAPHAMA, kemudian disepakati istilah “Masyarakat Adat” sebagai padanan dari terjemahan “Indigenous Peoples” sekaligus pengganti label-label yang seringkali dilekatkan kepada Masyarakat Adat, seperti masyarakat terpencil, suku terasing, masyarakat terbelakang, dan lain-lain.

Pada 15-22 Maret 1999, difasilitasi oleh berbagai organisasi masyarakat sipil – JAPHAMA mengorganisir ratusan pemimpin Masyarakat Adat dan perempuan adat dari berbagai penjuru Nusantara untuk berkumpul di Hotel Indonesia, Jakarta, dalam rangka melaksanakan Kongres Masyarakat Adat Nusantara untuk membahas dan mencari solusi atas persoalan Masyarakat Adat, termasuk pelanggaran hak asasi, perampasan wilayah adat, pelecehan budaya, dan kebijakan yang mendiskriminasi Masyarakat Adat.

Kongres tersebut kemudian mendeklarasikan terbentuknya organisasi perjuangan bersama, yaitu AMAN, dengan tujuan untuk mewujudkan Masyarakat Adat yang berdaulat secara politik, mandiri secara ekonomi, dan bermartabat secara budaya. Tanggal 17 Maret 1999 pun ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Masyarakat Adat Nusantara (HKMAN).

KMAN 1999 juga turut dihadiri oleh berbagai utusan Masyarakat Adat dari Tanah Papua. Mereka adalah Alex Gagojai, Alex K. Andoyap, Deky Rumaropen, Dominggas Nary, Decky Zonggonau, Alex Sanggenafa, Amos Soumilena, Hairle Yelipele, Heny Ohe, Hubert Kwambre, Laurens Lani, Luther K., Markus Numang, Mathea Mameyau, Metuzalak Ambon, Moses Mosioi, Nahor Sibiar, Petrus Sayori, Ofni Simbiak, Oktavianus Mambraku, Sari Sembor, Silfester Wogan, Silvius Kumryu, Tom Beanal, Wempi Bilasi, Yafet Yelemaken, Yosafat Merabano, dan Zadrak Wamebu.

Sejak KMAN tahun 1999, AMAN telah menyelenggarakan KMAN II di Desa Tanjung, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat pada 19-25 September 2003; KMAN III di Pontianak, Kalimantan Barat pada 17-20 Maret 2007; KMAN IV di Tobelo, Halmahera Utara, Maluku Utara pada 19-25 April 2012; dan KMAN V di Kampong Tanjung Gusta, Deli Serdang, Sumatera Utara pada 15-19 Maret 2017.

Saat ini, AMAN telah beranggotakan 2.449 komunitas Masyarakat Adat yang tersebar di seluruh penjuru Nusantara dan akan kembali melaksanakan KMAN VI di Wilayah Adat Tabi, Papua pada 24-30 Oktober 2022. Tema yang diangkat untuk KMAN VI, adalah “Bersatu Pulihkan Kedaulatan Masyarakat Adat untuk Menjaga Identitas Kebangsaan Indonesia yang Beragam dan Tangguh Menghadapi Krisis.”

Pelaksanaan KMAN VI di Wilayah Adat Tabi, Papua, akan diisi dengan serangkaian kegiatan:

  1. Pawai Budaya

Pawai Budaya adalah sebuah karnaval budaya yang akan diikuti oleh seluruh peserta KMAN VI, Masyarakat Adat dari Wilayah Adat Tabi, paguyuban-paguyuban suku se-Nusantara di tanah Papua, dan Iain-Iain. Pawai Buda yang ada dilakukan dengan mengelilingi Kota Sentani dan titik kumpul di Stadion Barnabas. Kota Sentani.

  1. Pembukaan dan Dialog Umum

Pembukaan KMAN VI akan diawali dengan ritual adat, Perayaan Hari Kebangkitan Masyarakat Adat Kabupaten Jayapura, serta Dialog Umum Masyarakat Adat dan pemerintah.

  1. Rangkaian Sarasehan

Sarasehan-sarasehan yang mengangkat tema seputar Masyarakat Adat, akan dilaksanakan selama dua hari sebelum pelaksanaan sidang-sidang dalam KMAN VI dengan bertempat di beberapa tempat di sekitar lokasi pelaksanaan KMAN VI. Ada 24 sarasehan yang meliputi isu tentang hak atas wilayah adat, manusia serta tanah dan sumber daya alam di Papua, partisipasi politik Masyarakat Adat, ekonomi berbasis Masyarakat Adat, kedaulatan pangan, peradilan adat, pendidikan, perempuan adat, pemuda adat,  mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, budaya dan spirit Masyarakat Adat, pemetaan wilayah adat, dan lain-Iain Sarasehan-sarasehan tersebut akan melibatkan berbaga kelompok dan jaringan Masyarakat Adat, baik Pemerintah Pemerintah Daerah, organisasi Masyarakat Sipil, akademis maupun lembaga-lembaga terkait yang selama ini telah berkontribusi dan mendukung gerakan Masyarakat Adat.

  1. Rangkaian Sidang KMAN VI

Persidangan akan diawali dengan Iaporan pelaksanaan organisasi dalam Iima tahun terakhir oleh Sekjen AMAN dan DAMANNAS, kemudian dilanjutkan dengan rapat komisi paralel, pengembangan program strategis untuk Iima tahun ke depan dan keputusan anggota tentang isu-isu yang berkaitan dengan Masyarakat Adat. Semua hasil sarasehan-sarasehan (sebagai pendahuluan) akan menjadi salah satu bahan masukan penting untuk pengambilan keputusan. Di penghujung KMAN VI akan dilakukan pemilihan Sekjen AMAN dan DAMANNAS untuk periode 2022-2027

  1. Pagelaran Seni Budaya Masyarakat Adat

Pagelaran Seni Budaya Masyarakat Adat akan diadakan selama berlangsungnya KMAN VI dan diikuti oleh utusan-utusan Masyatakat Adat dari berbagai penjuru Nusantara maupun sejumlah utusan Masyarakat Adat dari Iuar negeri. Pagelaran ini dimaksudkan untuk mempererat solidaritas dan persaudaraan melalui penukaran seni budaya Masyarakat Adat di Nusantara dan berbagai negata di dunia. Pagelaran Seni Budaya Masyarakat Adat diselenggarakan untuk menunjukkan wajah dari Masyarakat Adat.

  1. Pameran Produk Masyarakat Adat Nusantara

Masyarakat Adat di seluruh Nusantara memiliki berbagai pengetahuan dalam memproduksi produk-produk kerajinan dan mengembangkan ekonomi kreatif. Oleh sebab itu, sebagai upaya untuk mendukung dan mempromosikan I’nI’sIatI’f serta kreativitas Masyarakat Adat yang tak ternilai tersebut, diadakan Pameran Produk Masyarakat Adat Nusantara selama berlangsungnya KMAN Vl. Kegiatan I’nI’ akan melibatkan komunitaskomunitas Masyarakat Adat anggota AMAN dan bekerja sama dengan berbagai organisasi pendukung gerakan Masyarakat Adat serta Pemerintah Daerah, khususnya Pemerintah Kabupaten Jayapura dan sekitarnya.

  1. Presentasi Media

lnformasi dan komunikasi merupakan ha! yang panting dalam memperkuat dan memperluas gerakan Masyarakat Adat. Kunci dari gerakan adalah ketika semua isu penting gerakan dan kisah Masyarakat Adat dapat disampaikan dan menjadi perhatian pubhk yang lebnh luas. Oleh sebab itu, KMAN VI juga akan menampilkan berbagai informasi terkait situasi dan kisah-kisah tentang Masyarakat Adat yang terdokumentasikan dalam bentuk media cetak maupun audio-visual. Kegiatan ini akan mengonsoldasikan seluruh media yang terlibat di KMAN VI sena jejaring AMAN. termasuk para pembuat film; jurnalis media massa cetak, radio, televisi, dan berbasis internet (portal); pegiat radio komunitas; dan sebagainya.

  1. Festival Danau Sentani & Festival Kuliner Nusantara

Seluruh rangkaian KMAN VI akan ditutup dengan Festival Danau Sentani dan Festival Kuliner Nusantara yang berkolaborasi dengan Pemerintah Jayapura dan para kepala koki Masyarakat Adat, terutama dari Masyarakat Adat Papua.

KMAN VI akan dihadin Iebih dari 5.000 perwakilan Masyarakat Adat anggota AMAN. Selain itu, hadir pula para pengurus organisasi AMAN di semua tingkatan dan organisasi sayap AMAN, pemerhati masyarakat Adat dan berbagai organisasi masyarakat sipil jaringan nasional dan internasional, Iembaga donor, akademisi atau peneliti, perwakilan kedutaan besar negara-negara sahabat, dan perwakilan berbagai Instansi pemerintah yang akan berkumpul untuk mengambil bagian dalam perencanaan masa depan gerakan Masyarakat Adat di lndonesia.

 

Secara rinci, komposisi para peserta yang akan hadir dan terlibat dalam KMAN VI. antara lain:

– Peserta merupakan utusan komunitas Masyarakat Adat yang sudah sah tardaftar sebagai anggota AMAN (masing-masing dua laki-laki den perempuan).

– AMAN yang mencakup Pengurus Besar (PB), Pengurus Wilayah (PW), dan Pengurus Daerah (PD). Ada pun penetapan kepesertaan, antara Iain (1) PB terdiri dari Sekjen dan 14 anggota DAMANNAS; (2) PW terdiri dari seorang Ketua Badan Pelaksana Harian Wilayah (BPH Wiiayah) dan seorang utusan Dewan AMAN Wilayah (DAMAN Wi|ayah); (3) PD terdiri dari seorang Ketua BPH Daerah dan seorang utusan DAMAN Daerah.

– Organisasi sayap dan badan otonom AMAN.

– Panitia KMAN Vl.

– Masyarakat Adat se-Tanah Papua (Papua dan Papua Barat)

 

Peninjau dan undangan yang merupakan utusan atau perwakilan dari organisasi non-pemerintah pendukung Masyarakat Adat di tingkat daerah, nasional, dan intemasional; utusan dari organisasi – organisasi Masyarakat Adat di tingkat internasional; akademisi atau peneliti; Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan Kementerian atau instansi pemerintah, perwakilan kedutaan besar negara-negara sahabat; lembaga donor, dan pihak-pihak terkait lainnya.at, terutama dan Masyarakat Adat Papua. (RNC/Rudi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.