oleh

Dalam Bermedsos, Santri Dituntut Cakap dan Berakhlak

-Nasional-48 views

Sumenep, RNC – Influencer sekaligus praktisi literasi digital Rofiatul Rofiah berpendapat bahwa kesopanan atau kepribadian yang baik yang meliputi behavior, attitude, ahlak, perilaku, etika dan moral memiliki nilai yang lebih tinggi dari pada kecerdasan.

“Ketika bermedia sosal dan memanfaatkan teknologi digital, bukan hanya pintar dalam bermedia sosial, tetapi juga cakap dan berahlak,” kata Rofiatul pada Seminar dan Literasi Digital Pesantren bertajuk “Santri Sumenep, Makin Cakap Digital” oleh Kaukus Muda Indonesia atau KMI dan Kementerian Kominfo serta PC IPNU Sumenep, pada Selasa (19/7/2022).

Orang cerdas, tambah Rofiatul, pasti kalah dengan orang yang mempunyai kepribadaian baik. Generasi milenial, termasuk santri-santri pesantren dituntut untuk semakin cakap digital karena perilakumu adalah kesehatanmu.

“Sekarang ini kita berada di era digital, untuk itu kesopanan diutamakan dari pada kecerdasan, orang cerdas pasti kalah dengan orang yang mempunya kepribadaian yang baik,” ujarnya.

Rofiatul menambahkan, jika para santri bisa memanfaat media sosial (medsos) dengan baik dan benar, maka akan menghasilakn cuan. Contohnya dalam membuat konten yang baik, bisa digunakan dengan hal yang positif. Contohnya membuat konten bahasa Inggris atau bahas Arab, untuk dibagikan kepada orang lain.

“Media sosial juga memiliki etika, yang mana fungsinya adalah untuk menghindari kesalahpahaman di media sosial dan tidak merugikan orang lain. Jadi jika Anda ingin membuat konten, anggap enteng dan lakukan jika bermanfaat. Tetapi jangan sebaliknya. Yang terakhir adalah untuk menghindari tabrakan,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Teknologi dan Persandian mewakili Kadinas Kominfo Sumenep Novin Dwi Wacyu mengajak para santri pesantren mengunakan teknologi dengan sebaik mungkin. Bukan justru membuat masyarakat menjadi resah.

Cara menggunakan teknologi masa kini, menurut dia adalah gunakan teknologi untuk hal-hal positif baik yang berkaitan dengan pekerjaan maupun komunikasi. Hendaknya kurangi penggunaan teknologi untuk hal-hal yang berbau negatif, seperti untuk mencela orang lain lewat sosial media atau untuk kejahatan.

“Jika Anda menyadari cara menggunakan teknologi untuk hal positif, maka sudah bisa dipastikan akan banyak manfaat yang bisa dirasakan, serta beragam kemudahan yang ditawarkan,” ujarnya.

Praktisi digital Andilala mengakui bahwa kemajuan teknologi bisa dipandang negatif ketika membuat masyarakat menyepelekan komunikasi tatap muka. Karena terlalu banyak menghabiskan waktu di gawai, dikhawatirkan bisa menjauhkan diri dari orang-orang di sekitar.

“Kehadiran teknologi membuat kita terpapar pada banyak informasi baik dari dalam maupun luar negeri. Kita bisa melihat berbagai variasi mode dan gaya lewat majalah, tontonan, dan sosial media,” katanya.

Menurut Andilala, tak jarang pakaian yang dikenakan bintang film dicontoh, bahkan menjadi tren di Indonesia. Bahkan tanpa disadari gaya hidup individu atau kelompok mulai berubah. (red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.