oleh

Mengenang 30 hari Kematian Joshua Hutabarat, Ibu Joshua Minta Keadilan untuk Mendiang Joshua

Jakarta – RNC: Hutabarat sejagat raya sebetulnya ada pengumuman Hutabarat itu artinya bagi seluruh rakyat Indonesia, menurut saya dan saya berada di sini sebagai seorang ibu turut merasakan kepedihan hati dari ibunya Joshua kita bicara soal begitu banyak kejanggalan begitu banyak kebohongan yang disajikan di depan kita semua kita lupa bahwa dari Joshua tuh udah nggak bisa balik lagi ke dunia.

Kalau saya jadi ibunya saya hanya ingin tahu bagaimana anak saya mati siapa yang membunuhnya kenapa dia mati. Apakah dia menderita sebelum dia mati jadi itu hal-hal yang setidaknya bisa melipur lara karena tidak bisa kita mengembalikan nyawa yang sudah hilang itu. Apalagi awak itu dicabut oleh kekuasaan nyawa itu dicabut oleh orang yang memiliki pangkat sehingga bisa membuat skenario atau rekayasa yang membingungkan.

Harapannya tentu saja menguak tabir ini setelah terangnya seperti harapan yang sudah disampaikan oleh Presiden Jokowi, Mahfud MD dan itu sebetulnya harapan dan itu tidak perlu diulang-ulang.  Saya ingin mengingatkan bahwa di dalam konstitusi tugas polisi republik Indonesia itu adalah melayani dan mengayomi seluruh rakyat Indonesia artinya tanpa disuruh presiden pun harusnya bekerja dengan baik.  Akan tetapi tidak bisa harus di berikan ada tekanan dari Presiden ada tekanan dari Mahfud MD ada tekanan dari civil society ada tekanan dari keluarga Kuta Barat jadi inilah yang merupakan kumpulan dari orang-orang yang peduli dan ingin memberikan support bagi Samuel Hutabarat dan ibu Rosti Simanjuntak yang berduka dan kami seluruh kota Barat sedunia dan sejagat ini ikut merasakan kepedihan hati seorang ibu anaknya mati, dikirim ke rumah dalam peti tidak boleh dilihat.

Saya ingin bertanya itu pelanggaran HAM bukan? kenapa Komnas HAM tidak pernah tanya siapa yang kasih perintah tidak boleh buka dikarenakan termasuk kejam. Itu luar biasa kejamnya saya pengen nanya yang memberikan perintah atau yang mengantar mau nggak kalau anaknya datang sudah mati sudah tidak bernyawa tapi enggak boleh dilihat. Itu yang pertama dan tidak pernah ditanyakan sampai hari ini jadi saya melihat ibu Rossi dan Pak Samuel itu orang jujur yang setengah mati berusaha membesarkan anaknya dengan pas-pasan guru honorer gajinya 350.000 karena pandai dan pintar anaknya.

Jadi kita ini harus melihat sisi lain dari segala omongan tentang scientific crime investigation bagaimana mengembalikan Marwah polisi semua hal-hal yang sehingga jadi retorika ini ada manusia ada yang namanya dihilangkan nyawanya ada ibu yang berduka setengah mati kita enggak pernah bahas menurut saya rasa empati kita ini harus menjadi lebih besar untuk melihat satu persoalan itu. Bukan hanya sebatas hal-hal yang diperlukan saja yang dibahas jadi kenapa dia bisa membesarkan anaknya sementara dia miskin sekali tinggal di dusun sana di Muaro Jambi itu kan hebat  orang Batak  anak  itu  harta yang paling berharga, anak itu di suruh bersekolah setinggi-tingginya walaupun miskin.

Walaupun sederhana walaupun setengah mati uang pas-pasan, merupakan contoh bagaimana seorang pemuda yang berhasil menjadi polisi kemudian nyawanya dilenyapkan begitu saja dan kita berkubang di dalam banyak sekali wacana kadang  yang mikir mau bantuin mau merasakan perasaan orang tuanya kalau saya lihat,  dalam hal ini yang saya pertanyakan  kenapa enggak pernah tanya itu pelanggaran HAM bukan.

Kalau anak dikirimkan meninggal dengan cara yang tidak terhormat. Orang tuanya melawan untuk membuka, nggak terima dia buka dia paksa untuk buka kalau tidak melawan kalau tidak ingin membuka maka tidak akan ada kita berkumpul di sini. Itu yang pertama dan yang kedua kalau pengacara dari keluarga tidak mengajukan laporan polisi ke bawah ini upaya pembunuhan maka tidak akan ada penyelidikan jadi kita kembali lagi ke akar masalahnya bahwa ada yang salah di tubuh polisi ini kalau menurut Pak Alwi lutan itu kalau polisi itu diibaratkan keranjang telur banyak yang busuk.

Telur yang busuk kita harus buang supaya telur yang lain masih bisa berguna ini  bagaimana mencerdaskan bangsa Indonesia itu bukan hanya slogan saja, ini rakyat Indonesia melihat  kalau otopsi itu begitu berarti dokter yang pertama otopsinya kan siapa dokternya kenapa bisa salah laporannya itu pembelajaran loh menurut saya lalu tiba-tiba hal-hal yang detail yang dibuka terhadap masyarakat itulah yang bisa mencerdaskan masyarakat jadi kalau polisi ingin menjelaskan masyarakat maka jawabnya juga bukan hanya transparan tapi gamblang.

Kami sudah transparan  normatif itu tidak transparan kami sedang menahan karena ada pelanggaran etika secara tidak profesional,  ketika apa yang dilanggar apa kah kita punya kemauan untuk tahu nama orang sudah hilang kok dalam kata lain juga berharap agar polisi ini melangsungkan  dan  mengusut kasus ini secara tuntas, terang bagi keluarga juga bagi masyarakat untuk membersihkan momen itu untuk memberikan pelajaran tentang civic education kepada seluruh rakyat Indonesia bukan hanya kepada Hutabarat dan orang Batak saja ini saya pikir ruhnya Joshua inilah yang mempersatukan kita semua.

Inilah yang ada bersama kita supaya kita mengawal polri-bersih kita bisa jadi tambah pandai karena perkara ini kan selama ini kita dibikin bodoh bodoh jadi bangsa Indonesia dianggap seperti kera jadi mudah-mudahan bisa lebih lebih gamblang lebih transparan sehingga yang mendengarkan dan menonton video lebih cerdas tutur ibu Irma Hutabarat. (RNC/Christin)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.